Maraknya pemakaian jilbab akhir-akhir ini adalah suatu hal yang patut kita syukuri, dari fenomena tersebut kita bisa melihat secara umum bahwa benih-benih kesadaran untuk dapat berislam dengan benar sudah mulai tumbuh dengan subur. Fenomena tersebut dapat dilihat dikampus-kampus, kantor pemerintahan, karyawati mall/plaza bahkan pelayan-pelayan café dan restoran.
Khususnya untuk kota padang, memang pengunaan jilbab sudah diwajibkan. Dengan dikeluarkannya peraturan daerah (perda) tentang kewajiban bagi setiap muslimah dari sekolah dasar hingga kantor-kantor pemerintahan
Kalau kita coba menengok beberapa dekade kebelakang, khususnya di Indonesia hal semacam ini sangatlah sulit kita temui. Pada masa Soeharto yang dikenal dengan gaya pemerintahannya yang represif, umat Islam khususnya muslimah belum lagi dapat leluasa untuk mendapatkan haknya untuk berjilbab secara bebas, bahkan mereka dilarang untuk menggunakan jilbab diinstansi-instansi pemerintahan bahkan sekolah. Namun hal itu sudah berakhir dan mudah-mudahan tidak akan diawali lagi.
Terlepas dari fenomena diatas yang ingin penulis uraikan disini adalah tentang berjilbab itu sendiri, memakai jilbab merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslimah yang tidak dapat ditawar lagi, kewajiban ini merupakan suatu wujud ketaatan kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT telah firmankan dalam Alqur’an pada surat Al Ahzab ayat 59 :
Wahai Nabi, Katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka mudah dikenali,sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59)
Firman Allah diatas selain sebagai perintah langsung yang harus dikerjakan oleh seorang muslimah, juga menjawab tentang bagaimana kriteria jilbab yang harus digunakan oleh seorang muslimah. Sangat jelas Allah mengatakan bahwa jilbab yang harus dipakai adalah yang mampu menutupi sekujur tubuh yang menjadi aurat mereka.
Aurat bagi perempuan dalam islam telah diatur sedemikian apiknya, sehingga yang dibolehkan untuk dinampakkan dari mereka hanyalah sebatas wajah, telapak dan atau punggung tangan mereka.
Kalau kita coba untuk mencukil lembaran sejarah, kita akan dapatkan sebuah kisah yang indah tentang bagaimana ketaatan yang ditunjukkan oleh kaum muslimah ketika perintah berjilbab ini diturunkan. Seperti layaknya kehidupan sekarang ini, kota Madinah dengan segenap aktifitasnya juga dilakoni oleh para muslimah yang mereka belum memakai jilbab, namun ketika mereka mendengar tentang kewajiban ini, mereka dengan serta merta tanpa harus ba bi bu mengambil apapun yang memungkinkan agar bisa menutup aurat mereka dengan benar. Perintah tersebut mereka jalankan dengan penuh kesadaran dan spontanitas karena memang rasa keimanan sudah menkristal dihati mereka.
Sejarahpun berkembang dan peradabanpun berubah, akan tetapi perintah berjilbab untuk tiap diri yang mengaku muslimah tidak akan berubah substansi, maupun redaksinya. Fenomena jilbab yang kita utarakan diatas juga mengalami pasang surut dari ulah peradaban manusia. Kenyataan yang berkembang saat ini adalah jilbab sudah mengalami dekadensi dimensi dan kehilangan izzah nya. Banyak varian yang bermunculan dari sebuah kreatifitas walaupun itu adalah hal yang positif, akan tetapi sangat disayangkan kreatifitas tersebut tidak lagi memperhatikan nilai syar’i nya.
Akhirnya jilbab tidak lebih dari hanya sekedar aksesoris belaka, perpaduannya pun tidak lagi bijaksana, sehingga ia tidak lagi mampu untuk memberikan rasa aman bagi sipemakai dan juga telah mengaburkan identitas pemakainya.
Jilbab mereka semakin mengkerut sehingga menampakkan leher mereka, jilbab mereka menutupi kepala tetapi pakaiannya tidak kuasa ‘tuk menutup bagian tubuh yang lain. Sungguh ironis memang, sehingga kita pun tak tega tuk melewatkannya. Melewatkan diri dan pikiran kita untuk senantiasa berusaha dan memikirkan cara untuk bisa menyampaikan kebenaran yang sebenarnya, bukan ketidak benaran yang dibenarkan.
Mudah-mudahan tulisan ini mampu menyentuh kalbu kita agar bisa berbuat banyak, mulai dari keluarga kita, tetangga dan sahabat atau teman-teman kita dikampus. Dan sekaligus menjadi wacana bagi kita semua yang bergerak sebagai generasi pengusung bangkitnya keluhuran peradaban islam .
Kamis Sore di Wisma Iqra’
Darul Nafis