Dalam sebuah perjalanan menembus jalanan Pasar Baru - Pasar Raya Padang, tergores sebuah peristiwa yang membekas dalam hati, akhirnya mengkristal membentuk butiran-butiran hikmah penuh makna, sangat berguna tentu. Saya ingat dengan kata-kata seorang senior saya dulu 'setiap moment itu ada hikmahnya, dan kejelian kita dalam mengambil hikmah tersebutlah yang akan mengantarkan kita pada pendewasaan diri'. semoga memang benar adanya, dengan sebuah peristiwa yang dilalui bisa menjadi jalan untuk senantiasa muhasabah diri, berikut saya tuliskan peristiwa itu :
Iring-iringan ahli waris dan pelayat yang mengantarkan jenazah kekuburan memergoki perjalananku dengan seorang teman, ketika baru sampai dipersimpangan Anduring. Terlihat raut kesedihan dari manusia-manusia hidup yang mengiringi keranda jenazah tersebut, entah siapa makhluk Allah yang telah dipanggilNya itu, aku hanya dapat melihat foto wisuda dan kuyakin yang difoto tersebut adalah almarhum yang sekarang tidak lagi mengunakan toga dan memegang ijazah yang dia banggakan. tapi sekarang hanya sesosok tubuh yang kaku terbungkus kain putih sekujur tubuhnya. kulayangkan pandang kesekitar rumah duka yang terletak persis ditepi jalan raya. Ucapan turut berduka cita dihias kalungan bunga yang dominan bewarna putih itu, ditempel didepan sebuah minibus bermerek Fakultas Kedokteran Baiturrahmah Padang. Aku tercenung, seketika itu aku bisa meraba bahwa almarhum minimal masih bestatus mahasiswa dan atau baru saja mendapatkan gelar S.Ked nya mungkin, dapat terbaca dari tahun angkatan teman-teman almarhum yang juga ditulis dikarangan bunga tersebut.
Hari itu aku diingatkan kembali tentang ajal (maut). Pikiran bawah sadarku kembali mengeliat, membuka kembali file-file tentang apa yang pernah terucap sewaktu aku menyampaikan materi dzikrul maut pada adik-adik mentoringku (dulu), hari ini ucapan tersebut kembali dibuktikan :
"Itulah ajal, apabila ia telah datang, maka sedetikpun tidak ada kuasa kita untuk mengundurnya atau mempercepatnya dari ketetapan Allah SWT, ia datang pada siapa saja, tanpa kompromi dengan banyaknya usia, tua, muda, anak-anak bahkan yang belum muncul keduaniapun juga ia temui. Oleh karena itu yang bisa kita persiapkan hanyalah bekal-bekal perjalanan panjang, pahit atau manisnya perjalanan itu tergantung pada bekal apa yang kita persiapkan".
Suzuki Smash yang dikendalikan oleh teman seperjalanku untuk selanjutnya kecepatannya terasa menurun, pelan. untuk saat itu tarikan gas seakan diatur sedemikian tenangnya, saya pikir itu terjadi demi melihat hal barusan yang kami saksikan dan komentar yang keluar dari lisan temanku itu "masih muda ya", aku menjawab dengan anggukan pelan dengan perasaan haru bercampur dengan pikiran yang membawa seolah-olah bisa saja saat ini yang sedang diusung dikeranda tersebut adalah aku sendiri, ya aku. dan kembali pertanyaan muncul dari bisikan hati. Sudah siapkan Aku untuk itu ??
Pembaca sekalian, tidak ada alasan untuk tidak mengingat mati, bukankah kematian adalah suatu ketetapan yang paling dekat dengan kita...
Dan sekarang, bukankah hari yang indah untuk mengingat mati....
Iring-iringan ahli waris dan pelayat yang mengantarkan jenazah kekuburan memergoki perjalananku dengan seorang teman, ketika baru sampai dipersimpangan Anduring. Terlihat raut kesedihan dari manusia-manusia hidup yang mengiringi keranda jenazah tersebut, entah siapa makhluk Allah yang telah dipanggilNya itu, aku hanya dapat melihat foto wisuda dan kuyakin yang difoto tersebut adalah almarhum yang sekarang tidak lagi mengunakan toga dan memegang ijazah yang dia banggakan. tapi sekarang hanya sesosok tubuh yang kaku terbungkus kain putih sekujur tubuhnya. kulayangkan pandang kesekitar rumah duka yang terletak persis ditepi jalan raya. Ucapan turut berduka cita dihias kalungan bunga yang dominan bewarna putih itu, ditempel didepan sebuah minibus bermerek Fakultas Kedokteran Baiturrahmah Padang. Aku tercenung, seketika itu aku bisa meraba bahwa almarhum minimal masih bestatus mahasiswa dan atau baru saja mendapatkan gelar S.Ked nya mungkin, dapat terbaca dari tahun angkatan teman-teman almarhum yang juga ditulis dikarangan bunga tersebut.
Hari itu aku diingatkan kembali tentang ajal (maut). Pikiran bawah sadarku kembali mengeliat, membuka kembali file-file tentang apa yang pernah terucap sewaktu aku menyampaikan materi dzikrul maut pada adik-adik mentoringku (dulu), hari ini ucapan tersebut kembali dibuktikan :
"Itulah ajal, apabila ia telah datang, maka sedetikpun tidak ada kuasa kita untuk mengundurnya atau mempercepatnya dari ketetapan Allah SWT, ia datang pada siapa saja, tanpa kompromi dengan banyaknya usia, tua, muda, anak-anak bahkan yang belum muncul keduaniapun juga ia temui. Oleh karena itu yang bisa kita persiapkan hanyalah bekal-bekal perjalanan panjang, pahit atau manisnya perjalanan itu tergantung pada bekal apa yang kita persiapkan".
Suzuki Smash yang dikendalikan oleh teman seperjalanku untuk selanjutnya kecepatannya terasa menurun, pelan. untuk saat itu tarikan gas seakan diatur sedemikian tenangnya, saya pikir itu terjadi demi melihat hal barusan yang kami saksikan dan komentar yang keluar dari lisan temanku itu "masih muda ya", aku menjawab dengan anggukan pelan dengan perasaan haru bercampur dengan pikiran yang membawa seolah-olah bisa saja saat ini yang sedang diusung dikeranda tersebut adalah aku sendiri, ya aku. dan kembali pertanyaan muncul dari bisikan hati. Sudah siapkan Aku untuk itu ??
Pembaca sekalian, tidak ada alasan untuk tidak mengingat mati, bukankah kematian adalah suatu ketetapan yang paling dekat dengan kita...
Dan sekarang, bukankah hari yang indah untuk mengingat mati....
